Jerry Pratt, ilmuwan riset senior di IHMC yang memimpin tim pengembangan Planar Elliptical Runner (PER) mengungkapkan kepada Technology Review kalau pelajaran yang didapat dari merancang robot burung unta ini dapat diterapkan pada robot yang berjalan lebih praktis untuk membuatnya lebih efisien dan alami sehingga berguna untuk aplikasi apapun yang ingin dilakukan dengan cepat dan di mana roda tidak bisa bekerja dengan baik.

Lain halnya dengan robot bipedal Cassie besutan Agile Technologies, biasanya memerlukan banyak kekuatan pemrosesan untuk menjalankan algoritma penyeimbang, giroskop dan sensor yang dibutuhkan untuk mempertahankannya. Namun berkat  desain elegan PER, robot burung unta kecil ini dapat menggerakkan kaki dengan gerakan elips hanya menggunakan satu motor saja.

Bentuk tubuh menambah kestabilannya dan kaki robot memiliki ketahanan reaktif, saat kaki terasa resistan, ditambahkanlah lebih banyak tenaga untuk dilalui, serta menyesuaikan kaki belakang dengan mekanis untuk menstabilkan sprintnya. Jika robot itu disesuaikan dengan ukuran manusia, kecepatannya bisa mencapai antara 20 atau 30 mph.

Biped robot biasanya lebih sulit untuk diimbangi, lebih banyak tenaga dan lebih mahal, tapi karena robot tersebut dapat secara dinamis menyeimbangkan, seperti penawaran humanoid Boston Dynamics, robot tersebut bisa sampai ke tempat-tempat yang robot lain tidak bisa lakukan. Dengan kata lain, robot dengan kaki akan sangat berguna di tempat-tempat di mana manusia itu ada,  tapi terlalu berbahaya, mahal, atau bahkan sampai mengendalikan dari jarak jauh untuk mengirim sebuah robot manusia di sana.